Dibalik Kilauan Songkok Recca

oleh -639 Dilihat

LAMBUSI.COM, Dibalik Kilauan Songkok Recca

Songkok atau peci merupakan alat tutup kepala yang digunakan sebagai identitas yang melambangkan mahkota kehormatan bagi sebagian besar kaum lelaki. Selain mencerminkan kegagahan seseorang, songkok juga kerap dijadikan sebagai simbol identitas adat dan kultur suatu daerah. Satu contohnya adalah songkok recca.

Di Kabupaten Bone, terdapat songkok yang dulunya hanya boleh dipakai oleh darah biru saja. Kabupaten yang terdapat di Awangpone, Sulawesi Selatan itu, memiliki songkok yang bernama recca. Konon katanya, dengan songkok ini kharisma pemakainya akan terlihat. Namun seiring berjalannya waktu, semua golongan bisa mengenakan songkok peninggalan raja ini.

Songkok Recca atau yang biasa disebut Songkok Pamiring juga sering disebut songkok To Bone, ketiga sebutan ini mempunyai kisah dan waktunya masing-masing. Mulanya Songkok Recca ada ketika Raja Bone Ke-15, yaitu Arung Palakka menyerang Tanah Toraja (Tator) pada tahun 1683. Saat itu, Tentara Tator memberikan perlawanan yang sengit terhadap pasukan Arung Palakka. Alhasil, ia hanya berhasil menduduki beberapa desa di wilayah Makale-Rantepao saja.

Ciri khas tentara kerajaan Bone yang cukup mencolok pada masa lalu yaitu dengan memakai sarung yang diikatkan di pinggang atau nama lainnya adalah (Mabbida atau Mappangare’ Lipa’). Selain itu, Prajurit Tator juga mempunyai kebiasaan memakai sarung tetapi diselempang yang biasa disebut (Massuleppang Lipa), sehingga saat terjadi pertempuran di malam hari berikutnya pasukan tentara jadi sulit dibedakan mana yang lawan ataupun kawan. Alasannya sederhana, baik lawan maupun kawan (prajurit Tatot ataupun Bone) masing-masing memakai sarung.

Arung Palakka, Raja Bone ke-15, menyiasatinya dengan menyusun strategi dan memerintahkan prajuritnya untuk memasang pembeda di kepala dengan memakai songkok, atau yang dikenal dengan songkok Recca. Singkat cerita, pada masa pemerintahan raja Bone ke-32 yaitu Lamappanyukki tahun 1931 songkok recca dijadikan kopiah resmi atau songkok kebesaran bagi raja, bangsawan, dan para punggawa-pungawa kerajaan saat itu. Hal ini bertujuan untuk membedakan tingkat kederajatan di antara mereka, maka songko’ recca akhirnya dibuat dengan pinggiran berbahankan emas atau disebut dengan (pamiring pulaweng), yang melambangkan tingkat strata atau drajatnya. Oleh karenanya, songkok recca disebut juga dengan songkok pamiring karena berlapiskan emas.

No More Posts Available.

No more pages to load.