Sepenggal Kisah Hidup Lelaki Renta, Sudirman Dg. Rabai ( Penjual Kacang Keliling )

oleh -267 Dilihat

Sepenggal Kisah Hidup Lelaki Renta, Sudirman Dg. Rabai ( Penjual Kacang Keliling )

15 tahun sudah, lelaki Renta ini setiap sore usai menunaikan Sholat Asyar, secara telaten mengayuh sepeda bututnya membelah pekatnya  malam antara Takalar- Gowa, menempuh jarak puluhan kilometer untuk bertahan hidup. Suaranya kini sudah parau mungkin lelah berteriak sepanjang rute yang dilewatinya. Baginya, Penjual kacang keliling ini, hujan deras dan angin kencang serta jalanan rusak bukanlah masalah.

Oleh : Yusrizal Kamaruddin

Sepekan sudah, ketika melintas di Poros Gowa – Takalar tepatnya di area Panciro atau Limbung, seorang tuan renta selalu terlihat mengayuh sepedanya secara perlahan, pemandangan ini kerap kali pantau di sekitar Jam 22.00- 23.30 tengah malam. Pendar lampu teplok yang bersandar di bagian belakang sepedanya adalah penanda akan dirinya. Untuk yang ketiga kali kami membeli kacang dan telur itik asi miliknya, akhirnya Sudirman Rabai bersedia untuk berbincang.

” Usai mengisi keranjang dengan puluhan liter kacang yang baru usai di masak kemudian meletakkan satu rak telur di atasnya dan terakhir memastikan lampu teplok berisi bahan bakar, saya pun bersiap untuk keluar menjual.” awal cerita Dg Rabai.

Lelaki kelahiran tahun 1965 di Dusun Wea, Desa Tarowang Kecamatan Galesong Selatan ini usai Sholat Asyar pamitan pada isterinya Sambara Dg So’na dan kedua anaknya.

Lampu teplok saya nyalakan usai sholat Maghrib di sekitaran Limbung Kecamatan Bajeng Gowa. Dan kembali mengayuh sepedanya menuju arah Sungguminasa Gowa.,” Tempat mangkal saya berjualan sekitar Panciro dan Sungguminasa, apabila pembeli sepi sering saya berjualan sampai ke Mawang Kecamatan Bontomarannu Gowa.” Lanjutnya sambil membungkus pesanan kami.

Dituturkan Dg Rabai, setiap malam dirinya jualannya biasa laris terjual di kisaran 15-25 liter, ” harga perliter kami jual seharga Rp.10 ribu sedangkan untuk telur itik asin seharga Rp.4000/ biji.” Lanjutnya.

Dirinya bersyukur masih bisa berusaha,” rata rata pendapatan setiap malam kami raih dikisaran Rp.150 Ribu – Rp.250 Ribu, Alhamdulillah, saya sering dapat untung paling banyak Rp.100 ribu, namun rata rata antara 50- 70 ribu Pak”. Ungkapnya.

Pergi ketika petang dan kembali ke rumahnya saat dini hari,” hujan, angin kencang sudah menjadi bagian dari hidup kami, bukan masalah pak demi menafkahi anak isteri, saya tiba kembali di rumah paling cepat Jam 01.00 dini hari Pak, apabila musim hujan biasanya tiba pada jam 03.00 dini hari”.tuturnya dengan lembut sambil menyerahkan Kacang yang sudah terbungkus.

Dg Rabai tetap bersemangat bicara saat mengurai akan hasil jualannya.” Alhamdulillah, walaupun keuntungan pas – pasan namun kami anggap berkah Pak karena cukup untuk memenuhi kebutuhan anak anak kami.”Tambahnya.

Kini kedua anaknya sudah mulai beranjak dewasa, Yang sulung sudah lulus SMA dan kini membantu kami mengolah sawah milik kerabat dekatnya, sementara adiknya masih duduk di bangku SMP.”  Begitu kata Dg Rabai. 

Soal kesehariannya, Dg Rabai menceritakan akan data KTP dan Kartu Keluarganya ( KK ) ” informasi aparat Desa, data keluarga saya tidak terdaftar jadi tidak pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah apapun namanya.” Ungkap Dg Rabai.

Desember tahun kemarin (2022) isterinya bersyukur dapat bantuan dari kantor desa ” Kepala Desa yang baru terpilih mengantarkan bantuan ke rumah, katanya Bantuan Tunai Langsung, Pak. Usai itu tidak pernah lagi.” Tambahnya.

Namun baginya, dirinya pasrah,” tentu kami berharap selalu Pak mendapatkan bantuan namun apabila belum ada reseki tentu nasib tidak bisa ditolak.” Jawabnya lirih.

Jam sudah menunjukkan pukul 00.15 dini hari usai kami berbincang di pinggir jalan poros Utama di Tanetea Bajeng. Rute kami sama, menuju arah Takalar. Namun tentu saya lebih cepat tiba, sementara Dg Rabai dengan sabar kembali mengayuh sepedanya, sarana menghidupi anak isterinya. Malam kian larut, sepanjang perjalanan saya membayangkan akan keteguhan seorang warga Galesong, bertahan hidup dengan apa adanya dengan sarana seadanya,  tanpa keluh kesah. Dg Rabai adalah bagian dari potret nyata kehidupan kita hari ini, seorang warga Desa yang berdiri kokoh diatas intervensi teknologi namun menggenggam rasa damai dan bangga bagi anak isterinya. Dg Rabai adalah sosok pejuang sejati bagi keluarganya.

Inilah Sepenggal Kisah Hidup Lelaki Renta, Sudirman Dg. Rabai (*)

(*) Redaksi

No More Posts Available.

No more pages to load.